Jumat, 17 Februari 2017

Penemu Tongsis - Anindito Respati Giyardani

Anindito Respati Giyardani, atau adalah orang Indonesia asal bandung yang telah menemukan Tongkat narsis atau tongkat eksis atau disingkat tongsis (bahasa Inggris: Selfie stick).

Di keluarga ia dipanggil Aa (sebutan kakak di sunda), teman-temannya menyebut si galing (rambut kribo), kadang juga disebut si botak, tapi yang lebih familiar Dito. Semenjak punya anak ia ingin sekali punya panggilan yang sangat gampang diucapkan oleh anaknya jadi akhirnya diputuskan dengan panggilan “BABAB”. Babab bukan berarti singkatan dari buang air besar agak banyak. Akhirnya pemakaian nama Babab juga dipakai oleh beberapa temen-temennya dan dirinya sendiri membiasakan memakai nama Babab Dito, supaya nanti kalo anaknya sudah besar, temen-temennya gak manggilnya Om tapi tetap manggil Babab.


Asal-usul penemuan tongsis

Tongkat narsis atau tongkat eksis atau disingkat tongsis (bahasa Inggris: Selfie stick) adalah alat yang digunakan untuk selfie dari jarak jauh yang berupa tongkat yang dapat dipanjangkan dengan di ujungnya terdapat tempat untuk menaruh telepon selular atau perangkat portabel lainnya. Alat ini merupakan modifikasi dari kaki-satu (monopod). Tongsis ramai digunakan seiring perkembangan telepon selular yang semakin beragam.

Alat ini pertama kali diciptakan di Jepang pada tahun 1995 dan dipatenkan oleh Anindito Respati Giyardani asal Indonesia. Tongsis masuk dalam jajaran temuan terbaik di 2014 versi majalah TIME, bersanding dengan Hoverboard, Apple Watch dan printer 3D.

Awal mula dibuatnya alat ini saat sang empunya ide melakukan kunjungan ke Thailand. Jika berwisata ke salah satu kota di Thailand para turis merasa kesulitan saat hendak merekam moment-moment saat berada di salah satu tempat wisata.

Konon masalah bahasa juga menjadi kendala saat para turis melakukan kunjungan ke negeri gajah putih tersebut. Sebagian masyarakat Thailand kurang fasih memakai bahasa asing membuat para turis memutar otak cara untuk mendapatkan rekaman foto usai melakukan kunjungan wisata.

Kemudian muncullah ide untuk membuat alat berbentuk tongkat yang bisa dipanjangkan hingga satu meter dengan di ujung tongkat terdapat tempat untuk menaruh ponsel atau perangkat portabel lainnya. Tentunya para penggila foto kamera saku sedikit lega dengan kedatangan alat yang bisa menopang aksi narsisnya tersebut. Sebab alat ini biasanya digunakan untuk pengguna yang ingin mengambil foto dalam posisi wide yang lebih luas karena keterbatasan perangkat mobile.


Pengunjung alun-alun Bandung sedang menggunakan tongsis untuk selfie
Adalah Anindito Respati Giyardani, ide bermula saat era tenarnya pelbagai aplikasi jejaring sosial.

Setelah memiliki beragam akun jejaring sosial, mulai tercetus di benak Babab untuk menciptakan peranti yang memudahkan setiap orang mengambil potret dirinya sendiri tanpa harus meminta tolong orang lain, atau yang marak disebut selfie. Ide itu kemudian tersambung lewat monopod yang dimilikinya. Kemudian, iseng-iseng ia sambungkan dengan pengikat ponsel yang biasa dipakai sekadar untuk memajang ponsel di etalase.

Setelah menemukan bentuk idealnya, Babab membawa peranti rancangannya itu pada temu komunitas iphonesia, pengguna ponsel iphone, di Labuhan Bajo. Di situ, sambil ketawa-ketawa ia sibuk selfie di tepi kapal. Temen-temennya menanyakan apa nama alat itu, ia menjawab ini tongkat ajaib yang bisa selfie dengan high-angel.

Akhirnya, satu demi satu teman sesama iphonesia mulai mengorder peranti yang kemudian beralih nama menjadi tongsis itu. Puncak kepopuleran tongsis  terjadi ketika ibu negara Ani Yudhoyono,
yang hobi fotografi, dihadiahi tongsis oleh anak-anak iphonesia. Setelah Bu Ani menyebarkan hasil jepretannya menggunakan tongsis di social media, pesananpun mengalir pada Babab.


Babab tak pernah menyangka ide yang bermula dari hobi selfie-nya ini justru mendatangkan pundi-pundi rupiah. Ia mengaku modalnya cuma satu juta, itu pun pakai kredit. Dari uang sejuta itu, tongsis mulai mendunia.


Paten

Seiring ketenaran tongsis, marak pula kreator tandingan. Melihat kondisi ini, Babab merasa kecolongan. Namun, setelah bersua Yoris Sebastian, pengusaha yang bergerak di bidang industri kreatif, Babab baru tahu, kreasinya ini bisa dipatenkan.

Enggan kecolongan lebih lama, dibantu Yoris Sebastian, Babab kemudian mendaftarkan tongsis agar memiliki hak paten. Tidak tanggung-tanggung. Pada 20 September 2012 silam, temuan tongsis ini dipatenkan hingga ke Amerika Serikat. Babab menyayangkan, meski sudah dua tahun didaftarkan, sertifikat hak paten tongsis belum juga keluar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar